ESTETIKA SENI

DISUSUN OLEH:
SRI HASTUTI MARZUKI
160501060


DOSEN PEMBIMBING :
ANTON SETIABUDI S.Pd., M.Sn

FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI AR-RANIRY
BANDA ACEH
2016/2017


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami ucapkan kepada Allah SWT dengan rahmat dan karunia-Nyalah saya  dapat menyelesaikan tugas  makalah pengantar seni budaya yang membahas ESTETIKA SENI. .Dengan pembahasan yang sederhana agar dapat mudah dimengerti dan pahami.
Walaaupun saya sudah sedemikin rupa untuk membuat tugas ini akan tetapi saya masih merasakan adanya kekurangan di makalah ini sehingga saya berharap saran dan kritik agar saya dapat menyusun makalah dengan lebih baik.Saya susun makalah ini dari beberapa sumber diantara lain yaitu buku-buku dan internet.
 Akhir kata saya berharap semoga makalah ini dapat memberikan ilmu pengetahuan dan manfaat terhadap pembaca.
           
                                                                                                Banda Aceh, September 2016


                                                                                                Sri Hastuti Marzuki





Daftar isi

KATA PENGANTAR  ...............................................................................................  i
DAFTAR ISI  ...............................................................................................................  ii
BAB I PENDAHULUAN ...........................................................................................  1
1.1.Latar belakang .............................................................................................  1
1.2.Rumusan masalah ........................................................................................  1
1.3.Tujuan ..........................................................................................................  1
BAB II PEMBAHASAN .............................................................................................  2
2.1.Pengertian estetika .......................................................................................  2
2.2.Konsep estetika ............................................................................................  3
2.3.Estetika dan filsafat .....................................................................................  3
2.4.Nilai estetika ................................................................................................  4
2.5. Aliran-aliran estetika seni ............................................................................  5
BAB III PENUTUPAN  ..............................................................................................  7
3.1. Kesimpulan .................................................................................................  7
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................  8





BAB 1
PENDAHULUAN
1.1.          Latar belakang
Didalam kehidupan sehari-hari keindahan sangat berguna dan di butuhkan oleh manusia pada umumnya. Keindahan digunakan manusia agar mendapatkan rasa kepuasan tersendiri. Keindahaan sendiri bersifat relative. Karena keindahan mempunyai nilai yang berbeda-beda di setiap manusia.
Cara membuat benda indah pun tidak bisa jika dengan teori dam jiwa yang kosong,  karena jika tidak mempunyai jiwa dan teori yang mendalam maka sulit untuk seseorang membuat benda itu menjadi indah. Biasanya jika pelukis,pemusik ataupun sastrawan memiliki jiwa yang penuh dengan keadaan hati yang baik akan menghasilkan karya yang memuaskan juga. Selain itu, keadaan sekitar dalam menciptakan karya juga akan mempengaruhi karyanya.
Sehingga di dalam makalah ini, saya ingin menyajikan teori tentang estetika seni. Estetika yang merupakan sebuah cabang dari filsafat yang membahas tentang seni.

1.2.         Rumusan masalah
a.)    Apa pengertian dari estetika?
b.)    Bagaimana konsep estetika ?
c.)    Hubungan antara Estetika dan Filsafat
d.)   Apa saja nilai estetika ?
e.)    Apa saja Aliran-aliran estetika seni ?
1.3.         Tujuan
a)      Untuk mengetahui arti dari estetika
b)      Agar mengetahui konsep dari estetika
c)      Agar mengetahui hubungan antara estetika dan filsafat
d)     Untuk mengetahui nilai estetika
e)      Agar mengetahui aliran-aliran estetika

BAB II
PEMBAHASAN
2.1.         Pengertian estetika
Estetika adalah bagian dari kajian aksiologi yang secara khusus membicarakan tentang nilai keindahan.Estetika dengan demikian berarti kajian kefilsafatan tentang nilai keindahan.
Estetika adalah salah satu cabang filsafat yang berkaitan dengan seni. Secara sederhana diartikan estetika adalah ilmu yang membahas keindahan, bagaimana ia bisa terbentuk dan bagaimana seseorang bisa merasakan estetika sebagai sebuah filosofi yang mempelajari nilai-nilai sensoris yang kadang dinggap sebagai penilaian terhadap sentimen dan rasa.
Estetika merupakan nilai-nilai yang berkaitan dengan kreasi seni dengan pengalaman-pengalaman kita yang berhubungan dengan seni. Hasil-hasil ciptaan seni didasarkan atas prinsip-prinsip yang dapat dikelompokkan sebagai rekayasa, pola, bentuk.
Estetika berasal dari kata “aistheton” atau “aisthetikos”, yang dalam bahasa Yunani Kuno berarti persepsi atau kemampuan mencerap sesuatu secara indrawi. Menurut plato, keindahan adalah realitas yang sebenarnya dan tidak pernah berubah-ubah. Bagi Plato, keindahan itu merupakan pancaran akal ilahi. Bila yang hakikat ilahi itu menyatakan dirinya atau memancarkan sinarnya pada, atau dalam realitas penuh, maka itulah keindahan.
Menurut Kant, keindahan itu merupakan sifat obyek bukan terletak pada subyek. Estetika adalah nilai-nilai indah dan jeleknya sesuatu. Perasaan estetis disebut pula sebagai perasaan keindahan. Perasaan keindahan ini biasa terungkap dalam seni, namun ada pula yang mengendap dalam diri menjadi cinta tanpa pamrih.
Selanjutnya, nilai baik sebanding dengan nilai indah, tetapi kata” indah” lebih sering dikenakan pada seni, sedangkan “baik” pada perbuatan. Di dalam kehidupan, indah lebih berpengaruh ketimbang baik. Orang lebih tertarik pada rupa ketimbang pada tingkah laku. Orang yang tingkah lakunya baik (etika), tetapi kurang indah (estetika), akan dipilih belakangan, yang dipilih lebih dulu adalah orang yang indah, sekalipun kurang baik.
Filsafat Estetika, kalau logika merupakan bentuk kemampuan manusia untuk dapat membedakan antara sesuatu yang benar dan tidak benar  dan etika merupakan kemampuan manusia untuk membedakan perilaku yang baik dan yang tidak baik maka adalagi kemampuan manusia untuk membedakan sesuatu yang indah dan sesuatu yang tidak indah.

2.2.         konsep estetika
Konsep estetika merupakan konsep-konsep yang berasosiasi dengan istilah yang mengangkat kelengkapan estetika yang mengacu pada deskripsi dan evaluasi mengenai pengalaman-pengalaman yang melibatkan objek suatu kejadian artistik dan estetik.
Pada abad ke 18 filosof seperti Edmund Burke dan David Hume berusaha untuk menerangkan konsep estetik. Misalnya keindahan secara empiris dengan cara menghubungkan dengan respon fisik dan psikologis serta mengelompokannya ke dalam tipe-tipe penghayatan individual atas objek-objek dan kejadian-kejadian yang berbeda. Jadi mereka melihat suatu dasar untuk objektifitas reaksi pribadi.Kant mengatakan bahwa konsep estetik secara esensial bersifat subjektif ialah berakar pada perasaan pribadi mengenai rasa senang dan rasa sakit. Juga mengatakan bahwa konsep itu memiliki objektifitas tertentu dengan dasar bahwa pada dasar estetik murni perasaan sakit dan senang merupakan respon yang universal.

2.3.         Estetika dan Filsafat
Filsafat estetika pertama kali dicetuskan oleh Alexander Gottlieb Baumgarten (1975) yang mengungkapkan bahwa estetika adalah cabang ilmu yang dimaknai oleh perasaan. ficabang ilmulsafat estetika adalah yang membahas masalah keindahan. Bagaimana keindahan bisa tercipta dan bagaimana orang bisa merasakannya dan memberi penilaian terhadap keindahan tersebut. Maka filsafat estetika akan selalu berkaitan dengan antara baik dan buruk, antara indah dan jelek.
Pembahasan estetika akan berhubungan dengan nilai-nilai sensoris yang dikaitkan dengan sentimen dan rasa. Sehingga estetika akan mempersoalkan pula teori-teori mengenai seni.
 Dengan demikian, estetika merupakan sebuah teori yang meliputi:
 Penyelidikan mengenai sesuatu yang indah
 Penyelidikan mengenai prinsip-prinsip yang mendasari seni;
 Pengalaman yang bertalian dengan seni, masalah yang berkaitan dengan penciptaan seni, penilaian terhadap seni dan perenungan atas seni.
2.4.          Nilai estetika (esthetic value)
Nilai adalah ukuran derajat tinggi-rendah atau kadar yang dapat diperhatikan, diteliti atau dihayati dalam berbagai objek yang bersifat fisik maupun abstrak. Nilai dapat diartikan sebagai esensi, pokok yang mendasar, yang akhirnya dapat menjadi dasar-dasar normatif.
Karya seni sebagai hasil ciptaan manusia mempunyai nilai-nilai tertentu untuk memuaskan suatu keinginan manusia. Sekiranya tidak memiliki nilai-nilai itu karya seni takkan diciptakan manusia dan seni tidak mungkin berkembang sejak dulu sampai mencapai kedudukannya dewasa ini yang demikian universal dan tinggi (The Liang Gie, 1976:72)
Pada dasarnya setiap nilai seni dari konteks manapun memiliki nilai yang tetap. Setiap artefak seni memiliki aspek nilai instrinsik-artistik, yakni berupa bentuk-bentuk menarik atau indah. Nilai lain dalam karya seni adalah nilai kognitif atau pengetahuan. Nilai ini terbatas pada beberapa cabang seni saja. Ada beberapa cabang seni yang kurang mengandung nilai kognitif. Seperti musik, hanya alat yang menimbulkan bunyi itu yang bersifat kontekstual. Nilai kognitif amat tampak dalam seni rupa, seni film, dan seni sastra.Nilai seni yang terakhir adalah nilai hidup. Karya seni bukan semata-mata demi artistik, meskipun ada aliran yang demikian. Tetapi, karena nilai itu sendiri selalu dalam konteks praktis dan fungsional dalam hidup manusia, maka perasaan nilai di luar nilai artistik menjadi sasarannya juga.
Menurut Dharsono Soni Kartika dalam bukunya yang berjudul pengantar estetika, nilai seni terbagi 3 :
a)      Nilai Intrinsik
Nilai instrinsik adalah nilai yang hakiki dalam karya seni secara implisit. Sifatnya mutlak dan hakiki dan nilai instrinsik adalah nilai seni itu sendiri.
b)      Nilai Ekstrinsik
Nilai ekstrinsik adalah nilai yang tidak hakiki. Nilai ini tidak langsung menentukan suatu karya seni, melainkan berfungsi sebagai pendukung, memperkuat kehadiran atau penyelenggarakan karya seni.
c)      Nilai Musikal
Nilai musikal adalah suatu kualitas musik murni yang tersamar dan sukar ditangkap oleh proses penghayatan karya seni. Nilai musikal ini memuaskan seniman dan pencipta seni yang disebabkan oleh rasa senang yang didasari secara spontan.
d)     Nilai Makna
Dalam penampilan seni kita dapat menyimak makna penampilan itu, baik yang terdapat pada bentuk luar maupun isinya. Makna luar adalah makna yang sebenarnya dan melambangi makna yang terkandung dibalik makna itu.
Nilai seni dan nilai estetis sangat sulit dibedakan dan dipisahkan, karena keduanya menyangkut psikologi seni dan filsafat seni, dan ada didalam “dunia” yang sama yakni didalam karya seni.
Menurut Immanuel Kant (seorang penggagas aliran kritisime dalam tradisi filsafat) mengatakan bahwa nilai estetis terbagi menjadi dua :
1)      Nilai estetis atau nilai murni. Oleh karena nilainya murni, maka bila ada keindahan, dikatakan keindahan murni. Keindahan nilai estetis murni ini terdapat pada garis, bentuk, warna dalam seni rupa. Gerak, tempo, irama dalam seni tari. Suara, metrum, irama dalam seni musik. Dialog dan gerak dalam seni drama.
2)      Nilai ekstra estetis atau nilai tambahan. Nilai ekstra estetis (nilai luar estetis) yang merupakan nilai tambahan terdapat pada bentuk-bentuk manusia, alam dan binatang.

2.5.              Aliran-aliran estetika seni.
      Aliran-aliran dalam filsafat estetika merupakan aspek hidup manusia yang lebih banyak menyangkut perasaan manusia dan oleh karena itu lebih bersifat subjektif oleh karena itu persoalan penilaian indah atau tidak indahnya sesuatu tidak dapat diukur  dengan kriteria yang benar-benar baku.Hal ini adalah penyebab terjadinya aliran-aliran dalam penciptaan dalam pemanfaatan karya seni sebagai wujud rasa keindahan. Tentang aliran-aliran seni yang berkembang di masyarakat secara ringkas dapat diulas sebagai berikut:
1)      Terjadinya aliran atau perbedaan selera tentang estetika atau seni menyangkut persoalan reaksi pesikologis pribadi manusia terhadap indah atau tidaknya suatu objek.
2)      Tentang dari mana  munculnya keindahan yang terwujud dalam bentuk karya seni ada yang mengatakan bahwa keindahan sebuah karya seni itu muncul dari kebiasaan rasa seni yang dimiliki seseorang tanpa terkait oleh objektifitas yang berasal dari luar manusia.
3)      Penilaian keindahan karya seni juga menyangkut pertannyaan apakah indahnya seni itu perlu ditinjau dari kemurnian penciptaannya ataukah yang penting wujud keindahan hasilnya.
4)      Perbedaan pendapat juga terjadi  dalam kaitan bagaimana menilai keindahan karya seni dari sudut uang.
5)      Perbedaan tentang seni sebagai wujud exspresi keindahan juga terdapat pada persoalan pemanfaatan karya seni.




BAB 3
PENUTUPAN

3.1.              Kesimpulan
Estetika berasal dari kata aistheton atau aisthetikos, yang dalam bahasa Yunani Kuno berarti persepsi atau kemampuan mencerap sesuatu secara indrawi. Menurut plato, keindahan adalah realitas yang sebenarnya dan tidak pernah berubah-ubah. Bagi Plato , keindahan itu merupakan pancaran akal ilahi. Bila yang hakikat ilahi itu menyatakan dirinya atau memancarkan sinarnya pada, atau dalam realitas penuh, maka itulah keindahan.
Estetika merupakan studi nilai dalam realitas kehidupan.Nilai estetika biasannya sukar untuk dinilai karena nilai- nilai ini menjadi milik personal dan sangat subjektif.
Seni sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia memang selalu berkembang diberbagai aspek yang melingkupinya, baik aspek-aspek di dalam seni itu sendiri maupun dalam pendidikan seni yang merupakan upaya sadar untuk mewariskan nilai-nilai dari generasi ke generasi.
Keindahan itu lebih banyak di tentukan oleh orang yang menilainya subjektif dari pada keadaan sesuatu itu sendiri objektif.Misalnya alunan suara gamelan jawa mendapat penilaian yang indah sekali bagi telinga-telinga tertentu karena dapat menembus sampai ke ujung perasaan dalam hati sanubarinya tetapi bagi telinga lainnya belum tentu mendapat penilaian yang indah. Hal ini disebabkan oleh perbedaan cita rasa atau perbedaan ukuran. Jadi cita rasa itu lah semacam ukuran yang di pergunakan untuk memberikan penilaian atau angapan tentang bagus jeleknya atau indah tidaknya sesuatu. Sedang perasaan keindahan adalah perasaan yang dialami pada waktu seseorang memberikan penilaian atau angapan tentang bagus jeleknya atau indah tidaknya sesuatu.




DAFTAR PUSTAKA

1.      Soegiono , Filsafat umum, Bandung:PT Remaja Rosdakarya, 2012
2.      Mohamad Muslih, Filsafat umum, Cet I Yogyakarta, 2005
3.      Nata Abuddin, Filsafat Pendidikan Islam,Cet I(Jakarta:Logos Wacana Ilmu)1997

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERSONALITY TEST REVIEW